Sabtu, 25 Desember 2010

Meraih Kebahagiaan Hidup Dalam Islam

Meraih kebahagiaan hidup dalam pandangan Islam tidak berkutat pada sisi materi. Walaupun Islam mengakui kalau materi menjadi bagian dari unsur kebahagiaan. Namun Islam pada dasarnya memandang masalah materi sebagai sarana bukan tujuan. Oleh karenanya, Islam memberikan perhatian sangat besar pada unsur ma’nawi seperti memiliki budi pekerti yang luhur sebagai cara mendapatkan kebahagiaan hidup.
Beberapa nash syar’i telah menunjukkan hal ini:
وَالْأَنْعَامَ خَلَقَهَا لَكُمْ فِيهَا دِفْءٌ وَمَنَافِعُ وَمِنْهَا تَأْكُلُونَ وَلَكُمْ فِيهَا جَمَالٌ حِينَ تُرِيحُونَ وَحِينَ تَسْرَحُونَ
“Dan Dia telah menciptakan binatang ternak untuk kamu; padanya ada (bulu) yang menghangatkan dan berbagai-bagai manfaat, dan sebagiannya kamu makan. Dan kamu memperoleh pandangan yang indah padanya, ketika kamu membawanya kembali ke kandang dan ketika kamu melepaskannya ke tempat penggembalaan.” (QS. An-Nakhl: 5-6)
قُلْ مَنْ حَرَّمَ زِينَةَ اللَّهِ الَّتِي أَخْرَجَ لِعِبَادِهِ وَالطَّيِّبَاتِ مِنَ الرِّزْقِ
“Katakanlah: “Siapakah yang mengharamkan perhiasan dari Allah yang telah dikeluarkan-Nya untuk hamba-hamba-Nya dan (siapa pulakah yang mengharamkan) rezeki yang baik?” (QS. Al-A’raf: 32)
Sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, “di antara unsur kebahagiaan anak Adam adalah istri shalihah, tempat tinggal luas, dan tunggangan yang nyaman.” (HR. Ahmad)
Islam pada dasarnya memandang masalah materi sebagai sarana bukan tujuan.
Oleh karenanya, Islam memberikan perhatian sangat besar pada unsur ma’nawi seperti memiliki budi pekerti yang luhur sebagai cara mendapatkan kebahagiaan hidup.
Kebahagiaan dunia
Islam telah menetapkan beberapa hukum dan beberapa kriteria yang mengarahkan manusia untuk mencapai kebahagiaan hidupnya di dunia. Hanya saja Islam menekankan bahwa kehidupan dunia, tidak lain, hanyalah jalan menuju akhirat. Sedangkan kehidupan yang sebenarnya yang harus dia upayakan adalah kehidupan akhirat. Allah Ta’ala berfirman,
مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً
“Barang siapa yang mengerjakan amal shaleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik.” (QS. An-Nahl: 97)
وَابْتَغِ فِيمَا آتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ الْآخِرَةَ وَلَا تَنْسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا
“Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi.” (QS. Al-Qashshash: 77)
فَمَا مَتَاعُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا فِي الْآخِرَةِ إِلَّا قَلِيلٌ
“Padahal kenikmatan hidup di dunia ini (dibandingkan dengan kehidupan) di akhirat hanyalah sedikit.” (QS. At-Taubah: 38)
Kebahagiaan akhirat
Kebahagiaan akhirat merupakan kebahagiaan abadi yang kekal. Menjadi balasan atas keshalihan hamba selama hidup di dunia. Allah berfirman,
الَّذِينَ تَتَوَفَّاهُمُ الْمَلَائِكَةُ طَيِّبِينَ يَقُولُونَ سَلَامٌ عَلَيْكُمُ ادْخُلُوا الْجَنَّةَ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ
“(yaitu) orang-orang yang diwafatkan dalam keadaan baik oleh para malaikat dengan mengatakan (kepada mereka): “Salaamun`alaikum, masuklah kamu ke dalam surga itu disebabkan apa yang telah kamu kerjakan”.” (QS. Al Nahl: 32)
لِلَّذِينَ أَحْسَنُوا فِي هَذِهِ الدُّنْيَا حَسَنَةٌ وَلَدَارُ الْآخِرَةِ خَيْرٌ وَلَنِعْمَ دَارُ الْمُتَّقِينَ
“Orang-orang yang berbuat baik di dunia ini mendapat (pembalasan) yang baik. Dan sesungguhnya kampung akhirat adalah lebih baik dan itulah sebaik-baik tempat bagi orang yang bertakwa.” (QS. Al Nahl: 30)
Islam telah menetapkan tugas manusia di bumi sebagai khalifah di dalamnya. Bertugas memakmurkan bumi dan merealisasikan kebutuhan manusia yang ada di sana. Hanya saja dalam pelaksanaannya senantiasa ada kesulitan, sehingga menuntutnya bersungguh-sungguh dan bersabar. Hidup tidak hanya kemudahan sebagaimana yang diinginkan dan diangankan orang. Bahkan dia selalu berganti dari mudah ke sulit, dari sehat ke sakit, dari miskin ke kaya, atau sebaliknya.
Ujian-ujian ini akan selalu mengisi hidup manusia yang menuntunnya untuk bersabar, berkeinginan kuat, bertekad tinggi, bertawakkal, berani, berkorban, dan berakhlak mulia serta lainnya. Semua ini akan mendatangkan ketenangan, kebahagiaan, dan ridla.
Allah Ta’ala berfirman,
وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِنَ الأَمْوَالِ وَالأَنْفُسِ وَالثَّمَرَاتِ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُمْ مُصِيبَةٌ قَالُوا إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ أُولَئِكَ عَلَيْهِمْ صَلَوَاتٌ مِنْ رَبِّهِمْ وَرَحْمَةٌ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُهْتَدُونَ
“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar, (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan, “Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji`uun” Mereka itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS. Al Baqarah: 155-157)
Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :
عَجَبًا لِأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ وَلَيْسَ ذَاكَ لِأَحَدٍ إِلَّا لِلْمُؤْمِنِ إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ
“Sungguh menakjubkan urusan seorang mukmin. Seluruh urusannya bernilai baik. Jika mendapat kebaikan dia bersyukur, dan itu baik untuknya. Dan jika tertimpa keburukan dia bersabar, dan itu baik untuknya.” (HR. Muslim)
Cara meraih kebahagiaan
1. Beriman dan beramal shalih.
Meraih kebahagiaan melalui iman ditinjau dari beberapa segi:
a. Orang yang beriman kepada Allah Yang Mahatinggi dan Yang Esa, tiada sekutu bagi-Nya, dengan iman yang sempurna, bersih dari kotoran dosa, maka dia akan merasakan ketenangan hati dan ketentraman jiwa. Dia tidak akan galau dan bosan dengan kehidupannya, bahkan akan ridla terhadap takdir Allah pada dirinya, pastinya dia akan bersyukur terhadap kebaikan dan bersabar atas bala’.
Ketundukan seorang mukmin kepada Allah membimbing ruhaninya yang menjadi pondasi awal untuk lebih giat bekerja karena merasa hidupnya memiliki makna dan tujuan yang berusaha diwujudkannya. Allah berfirman,
الَّذِينَ آمَنُوا وَلَمْ يَلْبِسُوا إِيمَانَهُمْ بِظُلْمٍ أُولَئِكَ لَهُمُ الْأَمْنُ وَهُمْ مُهْتَدُونَ
“Orang-orang yang beriman dan tidak mencampur adukkan iman mereka dengan kedzaliman (syirik), mereka itulah orang-orang yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS. Al An’aam: 82)
b. Iman menjadikan seseorang memiliki pijakan hidup yang mendorongnya untuk diwujudkan. Maka hidupnya akan memiliki nilai yang tinggi dan berharga yang mendorongnya untuk beramal dan berjihad di Jalan-Nya. Dengan itu pula, dia akan meninggalkan gaya hidup egoistis yang sempit sehingga hidupnya bermanfaat untuk masyarakat di mana dia tinggal.
Ketika seseorang bersifat egois maka hari-harinya terasa sempit dan tujuan hidupnya terbatas. Namun ketika hidupnya dengan memikirkan fungsinya, maka hidup nampak panjang dan indah, dia akan merasakan hari-harinya penuh nilai.
c. Peran iman bukan saja untuk mendapatkan kebahagiaan, namun juga sebagai sarana untuk menghilangkan kesengsaraan. Hal itu karena seorang mukmin tahu dia akan senantiasa diuji dalam hidupnya. Dan ujian-ujian itu termasuk untuk menguji keimanan, maka akan tumbuh dalam dirinya kekuatan sabar, semangat, percaya kepada Allah, bertawakkal kepada-Nya, memohon perlindungan kepada-Nya, dan takut kepada-Nya. Potensi-potensi ini termasuk sarana utama untuk merealisasikan tujuan hidup yang mulia dan siap menghadapi ujian hidup. Allah Ta’ala berfirman:
إِنْ تَكُونُوا تَأْلَمُونَ فَإِنَّهُمْ يَأْلَمُونَ كَمَا تَأْلَمُونَ وَتَرْجُونَ مِنَ اللَّهِ مَا لَا يَرْجُونَ
“Jika kamu menderita kesakitan, maka sesungguhnya mereka pun menderita kesakitan (pula), sebagaimana kamu menderitanya, sedang kamu mengharap dari Allah apa yang tidak mereka harapkan. Dan adalah Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (QS. Al Nisaa’: 104)
Peran iman bukan saja untuk mendapatkan kebahagiaan, namun juga sebagai sarana untuk menghilangkan kesengsaraan.
2. Memiliki akhlak mulia yang mendorong untuk berbuat baik kepada sesama.
Manusia adalah makhluk sosial yang harus melakukan interaksi dengan makhluk sebangsanya. Dia tidak mungkin hidup sendiri tanpa memerlukan orang lain dalam memenuhi seluruh kebutuhannya. Jika bersosialisasi dengan mereka merupakan satu keharusan, sedangkan manusia memiliki tabiat dan pemikiran yang bermacam-macam, maka pasti akan terjadi kesalahpahaman dan kesalahan yang membuatnya sedih. Jika tidak disikapi dengan sikap bijak maka interaksinya dengan manusia akan menjadi sebab kesengsaraan dan membawa kesedihan dan kesusahan. Karena itulah, Islam memberikan perhatian besar terhadap akhlak dan pembinaannya. Hal ini dapat kita saksikan dalam beberapa ayat dan hadits berikut ini:
a. Firman Allah dalam menyifati Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wasallam,
وَإِنَّكَ لَعَلى خُلُقٍ عَظِيمٍ
“Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung.” (QS. Al Qalam: 4)
فَبِمَا رَحْمَةٍ مِنَ اللَّهِ لِنْتَ لَهُمْ وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ لَانْفَضُّوا مِنْ حَوْلِكَ فَاعْفُ عَنْهُمْ وَاسْتَغْفِرْ لَهُمْ وَشَاوِرْهُمْ فِي الْأَمْرِ
“Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah-lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu.” (QS. Ali Imran: 159)
b. Perintah Allah kepada kaum mukminin agar tolong menolong dalam kebaikan,
وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ
“Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran.” (QS. Al Maidah: 2)
c. Perintah Allah agar membalas keburukan orang dengan kebaikan,
وَلَا تَسْتَوِي الْحَسَنَةُ وَلَا السَّيِّئَةُ ادْفَعْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ فَإِذَا الَّذِي بَيْنَكَ وَبَيْنَهُ عَدَاوَةٌ كَأَنَّهُ وَلِيٌّ حَمِيمٌ وَمَا يُلَقَّاهَا إِلَّا الَّذِينَ صَبَرُوا وَمَا يُلَقَّاهَا إِلَّا ذُو حَظٍّ عَظِيمٍ
“Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia. Sifat-sifat yang baik itu tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang sabar dan tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang mempunyai keberuntungan yang besar.” (QSl Fushshilat: 34-35)
d. Sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, “sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak mulia.”
e. Sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, “Perumpamaan orang-orang yang beriman dalam hal kasih sayang, kecintaan dan kelemah-lembutan diantara mereka adalah bagaikan satu tubuh, apabila ada satu anggotanya yang sakit maka seluruh tubuh juga merasakan sakit dan tidak bisa tidur.” (Muttafaqun ‘Alaihi)
3. Memperbanyak dzikir dan merasa selalu disertai Allah.
Sesungguhnya keridlaan hamba tergantung pada dzat tempat bergantung. Dan Allah Dzat yang paling membuat hati hamba tentram dan dada menjadi lapang dengan mengingat-Nya. Karena kepadaNya seorang mukmin meminta bantuan untuk mendapatkan kebutuhan dan menghindarkan dari mara bahaya. Karena itulah, syariat mengajarkan beberapa dzikir yang mengikat antara seorang mukmin dengan Allah Ta’ala sesuai tempat dan waktu, yaitu ketika ada sesuatu yang diharapkan atau ada sesuatu yang menghawatirkannya. Dzikir-dzikir tadi mengikat seorang hamba dengan penciptanya sehingga dia akan mengembalikan semua akibat kepada yang mentakdirkannya.
Berikut ini beberapa nash yang menunjukkan hubungan dzikir dengan kebahagiaan seorang hamba.
a. Firman Allah Ta’ala:
الَّذِينَ آَمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ
“(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” (QS. Al Ra’du: 28)
b. Perintah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam kepada seorang muslim ketika menikah.
اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ خَيْرَهَا وَخَيْرَ مَا جَبَلْتَهَا عَلَيْهِ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّهَا وَمِنْ شَرِّ مَا جَبَلْتَهَا عَلَيْهِ
“Ya Allah, aku memohon kebaikannya dan kebaikan tabi’at yang dia bawa, dan aku berlindung dari keburukannya dan keburukan tabi’at yang dia bawa.” (HR. Abu Daud no 2160, Ibnu Majah no1918 dan al Hakim).
c. Doa ketika terjadi angin ribut:
اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ خَيْرَهَا وَخَيْرَ مَا فِيْهَا وَخَيْرَ مَا أُرْسِلْتَ بِهِ، وَأَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّهَا وَشَرِّ مَا فِيْهَا وَشَرِّ مَا أُرْسِلْتَ بِهِ
“Ya Allah! Sesungguhnya aku mohon kepadaMu kebaikan angin (ribut ini), kebaikan apa yang di dalamnya dan kebaikan tujuan angin dihembuskan. Aku berlindung kepadaMu dari kejahatan angin ini, kejahatan apa yang di dalamnya dan kejahatan tujuan angin dihembuskan.” (Muttafaq ‘Alaih)
d. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mewajibkan untuk melakukan sebab (usaha), minta tolong kepada Allah, dan tidak sedih jika hasil yang diharapkan tidak terwujud. “Bersemangatlah mencari yang bermanfaat bagimu, minta pertolongan kepada Allah, dan jangan lemah. Jika engkau tertimpa musibah janganlah berkata: ‘Seandainya saya berbuat begini maka tentu tidak terjadi begitu.’ Namun katakanlah: ‘Allah telah menakdirkan musibah ini. Apa yang Allah kehendaki pasti terjadi’. Karena perkataan ‘Seandainya’ dapat membuka perbuatan syetan.” (HR. Muslim)
“Bersemangatlah mencari yang bermanfaat bagimu, minta pertolongan kepada Allah, dan jangan lemah. . . ”
--KEEP SPIRIT --

Jumat, 24 Desember 2010

Amalan-Amalan Di Hari Jum'at

Merupakan kepribadian seorang muslim apabila ia senantiasa bersemangat dalam amalan-amalan yang bermanfaat bagi dirinya. Ia selalu mencari amalan-amalan yang mudah dan memiliki balasan dari Allah ta’ala yang sangat banyak. Sebagaimana dalam sebuah hadist Rasulullah shalallahu ‘alayhi wa sallam yang berbunyi “Mukmin yang kuat lebih dicintai oleh Allah dibandingkan dengan mukmin yang lemah, dan masing-masing memiliki kebaikannya. Bersemangatlah untuk mengerjakan sesuatu yang bermanfaat bagi dirimu, serta mohonlah pertolongan kepada Allah dan janganlah kau lemah!…” (HR. Muslim).

Di saat kesalahan dalam beragama banyak pihak di negara tercinta ini seiring pula sunnah yang mulia ini tergeser. Benarlah sebagaimana yang dikatakan seorang ulama besar bahwa setiap satu kebid’ahan yang muncul akan menghapus satu sunnah yang mulia. Kebanyakan kaum muslimin justru lebih banyak terjerumus dalam kebid’ahan yang semakin marak dan tumbuh subur, sehingga muncullah talbis ketika bid’ah dianggap sunnah, dan ketika sunnah itu menjadi sirna ataupun aneh.

Benarlah seperti apa yang dikatakan oleh seorang tabi’in mulia bernama Hassan bin ‘Athiyyah al-Muharibi rahimahullah yang meneruskan apa yang dikatakan oleh Abu Hurairah radhiyallohu ‘anhu melalui periwayatan Abul ‘Abbas Al asham ialah: “Tidaklah suatu kaum membuat satu bid’ah (hal yang baru dalam agama-pen) dalam agama mereka melainkan Allah akan mencabut satu hal yang sama dari Sunnah mereka, kemudian Dia tidak akan mengembalikan Sunnah tersebut kepada mereka hingga hari Kiamat.” (HR. Ad Darimi sanadnya shahih dan ada didalam kitab Misykatul Mashabih karya Muhammad Nashiruddin Al Albani).

Hari jum’at sebagai salah satu hari yang apabila kaum muslimin mengetahui merupakan hari yang banyak memiliki faidah bagi setiap muslim. Tidak hanya sedikit melainkan banyak balasan yang akan diberikan oleh Allah berdasarkan sabda Nabi shalallahu ‘alayhi wa salam. Sekalipun amalan tersebut yang berupa sunnah tidak menyita banyak waktu dan tenaga. Banyak rahasia tersembunyi dan harta karun terpendam bagi seorang muslim seandainya mereka mau sedikit berusaha tuk mencari keutamaan dan amalan-amalan berbuah hebat di hari jum’at ini selain shalat jum’at yang diwajibkan bagi laki-laki. Atau para ‘ulama menyebutkan bagi hari jum’at nama tersendiri yaitu sayyidul ayyam.

Ada beberapa amalan jum’at yang dapat kembali dihidupkan ditengah kaum muslimin saat ini. Sunnah-sunnah yang sangat mulia dimana para sahabat radhiyalohu anhum sangat antusias dalam menjalaninya. Diantaranya ialah:
Memperbanyak shalawat kepada Rasulullah shalallahu ‘alayhi wa sallam, sebagaimana dalam sebuah hadist, Dari Aus bin Aus radhiyallohu ‘anhu bahwa Rasulullah shalallahu ‘alayhi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya diantara hari-harimu yang paling afdhal ialah hari Jum’at, pada hari itu (Nabi) Adam diciptakan, pada hari itu nyawanya dicabut, pada hari itu sangkakala ditiup, dan pada hari itu (pula) kiamat besar terjadi. Oleh karena itu, perbanyaklah shalawat untukku pada hari itu, karena shalawatmu akan ditampakkan kepadaku. “Para shahabat bertanya, “Ya Rasulullah bagaimana (mungkin) shalawat kami ditujukan kepadamu, padahal engkau sudah berbentuk tulang belulang?” Maka sabda beliau, “Sesungguhnya Allah Azza Wa Jalla telah mengharamkan tanah memakan jasad para Nabi.” (HR. Ibnu Majah dan An Nasa’i)

Dalam hadist yang lain Rasulullah shalallahu ‘alayhi wa sallam bersabda, “Perbanyaklah oleh kamu shalawat kepadaku pada hari Jum’at dan malam Jum’at, karena barangsiapa yang bershalawat kepadaku satu kali (shalawat saja), niscaya Allah akan bershalawat kepadanya sepuluh kali.” (HR. Baihaqi dan dihasankan oleh Syaikh Albani).

Adapun shalawat yang diperintahkan ialah sebagaimana yang dibaca ketika tahiyat akhir dalam shalat. Shalawat pun dibaca secara sendiri-sendiri bukan berjama’ah sebagaimana hal ini banyak terjadi di banyak masjid kaum muslimin setiap akan memulai shalat Jum’at dengan menggunakan speaker dan dipimpin oleh seseorang.
Sunnah yang lain dihari Jum’at ialah hendaklah bagi setiap muslim untuk membaca Surat Al Kahfi, sebagaimana dalam sebuah hadist dari Abu Sa’id Al Khudri radhiyallohu ‘anhu bahwasanya rasulullah shalallahu ‘alayhi wa sallam bersabda, “Barangsiapa membaca surat Al Kahfi pada hari Jum’at, niscaya bacaan tersebut menjadi cahaya baginya yang meneranginya antara dua Jum’at.” (HR. Hakim dan Baihaqi dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam Shahihul Jami’us Shaghir). Bahkan dimalam Jum’at pun diperbolehkan sebagaimana pendapat beberapa fuqaha diantaranya pemuka madzhab syafi’iyah yaitu Al Imam Asy Syafi’i. Maka hendaklah ia mengambil hadist ini sebagai hujjah mereka-mereka yang seringkali melakukan kebid’ahan dengan imbuhan –an seperti yasinan dan tahlilan. –wallahu ‘alam-

Memperbanyak do’a disaat waktu yang dikabulkan sebagaiman dalam sebuah hadist dari Jabir radhiyallohu ‘anhu bahwasanya rasulullah shalallahu ‘alayhi wa sallam bersabda:“Hari Jum’at terdiri atas dua belas jam setiap hamba muslim memohon apapun kepada Allah azza wa jalla pada hari itu, pasti Dia memenuhi permohonannya, karena itu carilah kesempatan emas tersebut pada akhir waktu sesudah shalat Ashar.” (HR. Abu Daud, dishahihkan oleh Al Hakim juga diriwayatkan oleh Muslim II:584 no: 853).

Dan tentunya bagi seorang laki-laki ada sunnah yang lain yaitu shalat sunnah intidzhar (semampunya) dan shalat sunnah sesudah Jum’at, sebagaimana dalam sebuah hadist dari Abu Hurairah radhiyallohu ‘anhu bahwa Rasulullah shalallahu ‘alayhi wa sallam bersabda :“Barangsiapa yang mandi besar (seluruh tubuh) pada hari Jum’at, lalu kemudian datang (ke masjid untuk) shalat Jum’at, lalu ia shalat semampunya, kemudian ia mendengarkan khutbah dengan seksama hingga selesai khutbahnya, lalu ia shalat Jum’at dengannya, niscaya ndiampunilah baginya akan dosa-dosa yang terjadi antara Jum’at itu dengan Jum’at yang lain ditambah tiga hari.” (HR. Muslim).
Tidak ada qabliyah Jum’at sebagaimana yang dikerjakan oleh banyak kaum muslimi saat ini. Dimana ketika adzan dikumandangkan maka mereka berbondong-bondong untuk melaksanakan shalat qabliyah Jum’at. Mengenai hal ini Al Imam Ibnul Qayyim Al Jauziyyah memberikan penegasan, “Bahwa Nabi shalallahu ‘alayhi wa sallam apabila Bilal selesai mengumandangkan adzan, beliau langsung memulai berkhutbahnya, tidak seorang pun yang berdiri mengerjakan shalat dua rakaat, sama sekali tidak ada, dan adzan hanya sekali. Kemudian, kapan mereka akan shalat sunnah qabliyah Jum’at? (Zaadul Ma’ad fii Hadyi Khairil Ibaad I : 118)

Sedangkan dengan shalat sunnah sesudahnya terdapat hadist dari Abu Hurairah radhiyallohu ‘anhu bahwasanya Rasulullah shalallahu ‘alayhi wa sallam bersabda, “Apabila salah seorang diantara kamu akan shalat Jum’at, maka shalatlah sesudahnya empat raka’at.” (HR. Muslim), dan hal ini bisa dilakukan baginya dua rakaat dirumah maupun dua rakaat di masjid. Sebagaimana dijelaskan Ibnu Umar radhiyalllohu ‘anhu bahwa Rasulullah shalallahu ‘alayhi wa sallam tidak shalat dua rakaat seusai shalat Jum’at hingga beliau pulang, lalu shalat dua rakaat dirumahnya. (HR. Muttafaqun ‘alaih).

Maka merupakan sebuah kebaikan bagi setiap muslimin dan muslimat untuk segera bergegas melaksanakan sunnah yang mulia ini, sebuah amalan hebat di hari Jum’at dengan banyak manfaat.
Wallahu ‘alam bi shawwab…

Jumat, 17 Desember 2010

Janganlah Engkau Pasrah Pada Takdir

Allah berfirman dlm QS. Al-Rad :11 yg berbunyi :

 إِنَّ ٱللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوۡمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُواْ مَا بِأَنفُسِہِمۡ‌ۗ


"Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri". (Al-Rad :11)

SESUNGGUHNYA dari dalam jiwa akan terjadi perubahan. Barangsiapa yang merasa ridha, maka keridhaan yang akan dia dapatkan. Barangsiapa yang termakan kebencian, maka kebencian akan menggerogoti dirinya. Barangsiapa yang optimis akan mendapatkan kebaikan, maka dia akan mendapatkannya dan barangsiapa yang selalu khawatir akan tertimpa keburukan, maka dia akan menemukannya.

Sesungguhnya kebahagiaan muncul dari dalam jiwa, sebab jiwalah yang membawa perasaan dan emosi yang melihat sisi cerah kehidupan. Begitu juga keburukan berasal dari jiwa, karena yang dilihatnya hanya sisi gelap kehidupan. Rasa cinta pada manusia juga mencul dari dalam jiwa, karena yang dilihat dari mereka adaah sifat-sifat terhormat, kesetian dan kebaikan. Pun kebencian muncul dari jiwa, jika dia hanya memperhatikan tipu daya, pengkhianatan, dan minimnya pemahaman dan keingkaran mereka. 

Kegembiraan akan muncul dari jiwa jika dia dihidangi dengan cita dan optimisme, baik sangka, harapan mulia, sabar menunggu jalan keluar dari suatu kesulitan, dan menerima takdir dengan ridha. Kesedihan akan muncul dari jiwa jika dipenuhi dengan rasa putus asa, pesimis, perasaan tak berdaya dan gagal, su’uzh-zhan, prasangka bahwa keburukan akan menimpa dirinya dan menunggu-nunggu hal-hal yang jelek.

Barangsiapa mengubah keburukan yang ada dalam dirinya, lalu dia bertaubat dan kembali meratap kepada Allah serta bersiaga, maka akan dibukakan pintu padanya. 

Allah jalla sanu’hu berfirman:

 وَٱلَّذِينَ جَـٰهَدُواْ فِينَا لَنَہۡدِيَنَّہُمۡ سُبُلَنَا‌ۚ

“Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-banar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami.” (QS.Al-Ankabut {29}: 69).

Sebaliknya, barangsiapa yang membangkang dan berpaling dari Allah serta menolak hidayah-Nya, maka dia akan dipalingkan hatinya dari kebenaran. Allah swt Ta’ala berfirman,

فَلَمَّا زَاغُوٓاْ أَزَاغَ ٱللَّهُ قُلُوبَهُمۡ

 “Maka tatkala mereka berpaling (dari kebenaran), Allah memalingkan hati mereka.” (QS.Ash-Shaff {61}: 5).

Barangsiapa yang merasa lebih dekat dengan kesehatan daripada sakit dan laranya, maka rahmat Allah dan perlindungan-Nya akan datang menghampirinya. Sebaliknya, barangsiapa yang pesimis dan menunggu kejelekan, maka dia akan dihantam bencana.

Rasulullah saw. datang mengunjungi seorang Badui yang sedang sakit panas, lalu beliau berkata kepadanya untuk memberikan harapan, “Tak apa-apa semoga Allah mengampuni dosa-dosamu, InsyaAllah.” Namun orang Badui itu tidak menerima optimisme yang baik ini bahkan sebaliknya ia berkata, ‘Panas ini telah membakar orangtua yang telah mendekati kubur.’ Mendengar perkataannya, Rasulullah bersabda, “Kalau begitu, itulah adanya.” (HR. Bukhari) Demikianlah, jika ia menginginkan bencana yang menimpa dirinya tetap ada, maka itulah yang akan didapatkannya.

Ada dua orang penyair yang dipenjarakan. Seorang optimis dan seorang lagi pesimis. Keduanya lalu melihat keluar jendela penjara. Yang optimis melihat sekilas pada bintang gemintang dan dia pun merekahkan senyumnya. Sedangkan yang pesimis, dia melihat jalan sempit, kemudian dia pun menangis sambil melantunkan syair:

“Yang berakal merasa sengsara dalam kenikmatan karena akalnya

Sementara si bodoh, dalam kemeranaan dia merasa nikmat.”

Beberapa orang Badui menginfakkan hartanya di zaman Nabi saw untuk tujuan jihad. Sebagiana dari antara mereka menjadikannya sebagai usaha mendekatkan diri kepada Allah, sebagian lainnya menjadikannya sebagai suatu kerugian. Yang pertama mendapatkan pahala perbuatannya, sedangkan yang kedua mendapatkan siksa, padahal dirham yang mereka keluarkan sama. Namun, nilainya kemudian berubah hanya karena niat yang bersarang dalam hati mereka.

Di antara peribahasa paling indah yang dikatakan mengenai hal ini : Hidupmu adalah sesuai dengan apa yang kamu pikirkan. Tidaklah kehidupan itu kecuali merupakan persepsimu terhadap sesuatu; cinta atau benci.

Dalam sebuah syair dikatakan,

“mata yang diliputi cinta tidak lagi mampu melihat aib

Sebagaimana mata kebencian hanya akan melihat kejelekan.”

Allah ta’ala, karena mengetauhi keimanan yang ada dalam hati para sahabat Rasulullah saw, Dia turunkan ketenangan dalam jiwa mereka. Di sisi lain, karena Allah mengetahui apa yang ada dalam jiwa orang-orang munafik, maka Allah tambahkan bagi dosa atas dosa mereka yang lain.

Sesungguhnya orang yang sesat dia tidak akan mendapatkah hidayah hingga dia melangkah dengan satu langkah dari dirinya, dan menerima secara terbuka hidayah tersebut dan mau melihat cahayanya. Dalam hadits qudsi disebutkan, “Barangsiapa yang berjalan mendekati-Ku, maka Aku akan datang padanya dengan berlari.” Dan seseorang tidak akan pernah tersesat hingga dia berniat melakukan penyimpangan, dan memiliki maksud yang tidak baik. Allah swt berfirman,

“Kalau sekiranya Allah Allah mengetahui kebaikan ada pada mereka. Tentulah Allah menjadikan mereka dapat mendengar.” (QS.al-Anfal {8}: 23)

Sesungguhnya pemilik nikmat akan senantiasa menikmatinya sepanjang dia tidak mengubah sikap pada nikmat itu dengan kekafiran dan mengubahnya dengan keingkaran. Firman-Nya, “Orang-orang yang kafir kepada Rabb-nya, amalan-amalan mereka adalah seperti abu yang ditiup angin dengan keras pada suatu hari yang berangin kencang. Mereka tidak dapat mengambil manfaat sedikitpun dari apa yang telah mereka usahakan (didunia). Yang demikian itu adalah kesesatan yang jauh.” (QS.Ibrahim {14}: 18). Demikian juga dengan bencana, maka dia akan senantiasa berada bersama dengan orang itu, hingga dia bertaubat dari keingkarannya dan menarik diri dari kekurang ajarannya, sebagaimana firman Allah, “Lalu mereka beriman, karena itu Kami anugerahkan kenikmatan hidup kepada mereka hingga waktu yang tertentu.” (QS.Ash-Saaffaat {37}: 148)

Inilah sunnah yang akan senantiasa berjalan. Dan sekali-kali tidak akan didapatkan perubahan dalam sunnah Allah. Seorang pemangku kekuasaan yang berkuasa dengan benar dan adil, maka dia akan senantiasa memiliki harga diri, dan Allah akan menguatkan kekuasaannya. Allah swt berfirman, “Dan Kami kuatkan kerajaannya.” (QS.Shaad {38}: 20). Jika pemangku kekuasaan melupakan Allah, berlaku zhalim pada hamba-hamba-Nya, dan berlaku tidak adil dalam kekuasaannya, maka dia aakan hancur dan akan goyang sendi-sendi kekuasaannya. Firman-Nya, “Maka itulah rumah-rumah mereka dakam keadaan runtuh disebabkan kezhaliman mereka.” (An-Naml {27}: 52).

Demikianlah, tidak aka ada perubahan apa pun dalam diri kita, hingga kita sendiri mengubahnya dari dalam diri kita sendiri.

Selasa, 14 Desember 2010

Anak Shalih Adalah Aset Orang Tua

Anak adalah buah hati bagi kedua orang tuanya yang sangat disayangi dan dicintainya.Sewaktu bahtera rumah tangga pertama kali diarungi, maka pikiran pertama yang terlintas dalam benak suami istri adalah berapa jumlah anaknya kelak akan mereka miliki serta kearah mana anak tersebut akan dibawa. Menurut Sunnah melahirkan anak yang banyak justru yang terbaik. Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam bersabda:
تَزَوَّجُوا الْوَلُوْدَ وَالْوَدُوْدَ فَإِنِّيْ مُكَاثِرٌ بِكُمْ.
 “Nikahilah wanita yang penuh dengan kasih sayang dan karena sesungguhnya aku bangga pada kalian dihari kiamat karena jumlah kalian yang banyak.” (HR. Abu Daud dan An Nasa’I, kata Al Haitsamin).
Namun yang menjadi masalah adalah kemana anak akan kita arahkan setelah mereka terlahir. Umumnya orang tua menginginkan agar kelak anak-anaknya dapat menjadi anak yang shalih, agar setelah dewasa mereka dapat membalas jasa kedua orang tuanya. Namun obsesi orang tua kadang tidak sejalan dengan usaha yang dilakukannya. Padahal usaha merupakan salah satu faktor yang sangat menentukan bagi terbentuknya watak dan karakter anak. Obsesi tanpa usaha adalah hayalan semu yang tak akan mungkin dapat menjadi kenyataan.
Bahkan sebagian orang tua akibat pandangan yang keliru menginginkan agar kelak anak-anaknya dapat menjadi bintang film (Artis), bintang iklan, fotomodel dan lain-lain. Mereka beranggapan dengan itu semua kelak anak-anak mereka dapat hidup makmur seperti kaum selebritis yang terkenal itu. Padahal dibalik itu semua mereka kering akan informasi tentang perihal kehidupan kaum selebritis yang mereka puja-puja. Hal ini terjadi akibat orang tua yang sering mengkonsumsi berbagai macam acara-acara hiburan diberbagai media cetak dan elektronik, karena itu opininya terbangun atas apa yang mereka lihat selama ini.
Kehidupan sebagian besar selebritis yang banyak dipuja orang itu tidak lebih seperti kehidupan binatang yang tak tahu tujuan hidupnya selain hanya makan dan mengumbar nafsu birahinya. Hura-hura, pergaulan bebas, miras, narkoba dan gaya hidup yang serba glamour adalah konsumsi sehari-hari mereka. Sangat jarang kita saksikan di antara mereka ada yang perduli dengan tujuan hakiki mereka diciptakan oleh Allah Subhannahu wa Ta'ala , kalaupun ada mereka hanya menjadikan ritualisme sebagai alat untuk meraih tujuan duniawi, untuk mengecoh masyarakat tentang keadaan mereka yang sebenarnya. Apakah kita menginginkan anak-anak kita menjadi orang yang jauh dari agamanya yang kelihatannya bahagia di dunia namun menderita di akhirat? Tentu tidak. Allah Subhannahu wa Ta'ala berfirman:
|·÷‚u‹ø9ur šúïÏ%©!$# öqs9 (#qä.ts? ô`ÏB óOÎgÏÿù=yz Zp­ƒÍh‘èŒ $¸ÿ»yèÅÊ (#qèù%s{ öNÎgøŠn=tæ (#qà)­Gu‹ù=sù ©!$# (#qä9qà)u‹ø9ur Zwöqs% #´‰ƒÏ‰y™ ÇÒÈ  
“Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan dibelakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar”. (An Nisa: 9)
Pengertian lemah dalam ayat ini adalah lemah iman, lemah fisik, lemah intelektual dan lemah ekonomi. Oleh karena itu selaku orang tua yang bertanggung jawab terhadap anak-anaknya, maka mereka harus memperhatikan keempat hal ini. Pengabaian salah satu dari empat hal ini adalah ketimpangan yang dapat menyebabkan ketidak seimbangan pada anak.
Imam Ibnu Katsir dalam mengomentari pengertian lemah pada ayat ini memfokuskan pada masalah ekonomi. Beliau mengatakan selaku orang tua hendaknya tidak meninggalkan keadaan anak-anak mereka dalam keadaan miskin . (Tafsir Ibnu Katsir: I, hal 432) Dan terbukti berapa banyak kaum muslimin yang rela meninggalkan aqidahnya (murtad) di era ini akibat keadaan ekonomi mereka yang dibawah garis kemiskinan.
Banyak orang tua yang mementingkan perkembangan anak dari segi intelektual, fisik dan ekonomi semata dan mengabaikan perkembangan iman. Orang tua terkadang berani melakukan hal apapun yang penting kebutuhan pendidikan anak-anaknya dapat terpenuhi, sementara untuk memasukkan anak-anak mereka pada TK-TP Al-Qur’an terasa begitu enggan. Padahal aspek iman merupakan kebutuhan pokok yang bersifat mendasar bagi anak.
Ada juga orang tua yang menyeimbangkan pemenuhan kebutuhan bagi anak-anak mereka dari keempat masalah pokok di atas, namun usaha yang dilakukannya kearah tersebut sangat diskriminatif dan tidak seimbang. Sebagai contoh: Ada orang tua yang dalam usaha mencerdaskan anaknya dari segi intelektual telah melaksanakan usahanya yang cukup maksimal, segala sarana dan prasarana kearah tercapainya tujuan tersebut dipenuhinya dengan sungguh-sungguh namun dalam usahanya memenuhi kebutuhan anak dari hal keimanan, orang tua terlihat setengah hati, padahal mereka telah memperhatikan anaknya secara bersungguh-sungguh dalam segi pemenuhan otaknya.
Karena itu sebagian orang tua yang bijaksana, mesti mampu memperhatikan langkah-langkah yang harus di tempuh dalam merealisasikan obsesinya dalam melahirkan anak yang shalih. Di bawah ini akan kami ketengahkan beberapa langkah yang cukup representatif dan membantu mewujudkan obsesi tersebut:
1. Opini atau persepsi orang tua atau anak yang shalih tersebut harus benar-benar sesuai dengan kehendak Islam berdasarkan Al-Qur’an dan sunnah Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam , bersabda:
إِذَا مَاتَ بْنُ آدَمَ اِنْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلاَّ مِنْ ثَلاَثٍ، صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُوْ لَهُ.
“Jika wafat anak cucu Adam, maka terputuslah amalan-amalannya kecuali tiga: Sadaqah jariah atau ilmu yang bermanfaat atau anak yang shalih yang selalu mendoakannya.” (HR.Muslim)
Dalam hadits ini sangat jelas disebutkan ciri anak yang shalih adalah anak yang selalu mendoakan kedua orang tuanya. Sementara kita telah sama mengetahui bahwa anak yang senang mendoakan orang tuanya adalah anak sedari kecil telah terbiasa terdidik dalam melaksanakan kebaikan-kebaikan,melaksanakan perintah-perintah Allah Subhannahu wa Ta'ala , dan menjauhi larangan-laranganNya. Anak yang shalih adalah anak yang tumbuh dalam naungan DienNya, maka mustahil ada anak dapat bisa mendoakan orang tuanya jika anak tersebut jauh dari perintah-perintah Allah Subhannahu wa Ta'ala dan senang bermaksiat kepadaNya. Anak yang senang bermaksiat kepada Allah Subhannahu wa Ta'ala , jelas akan jauh dari perintah Allah dan kemungkinan besar senang pula bermaksiat kepada kedua orang tuanya sekaligus.
Dalam hadits ini dijelaskan tentang keuntungan memiliki anak yang shalih yaitu, amalan-amalan mereka senantiasa berkorelasi dengan kedua orang tuanya walaupun sang orang tua telah wafat. Jika sang anak melakukan kebaikan atau mendoakan orang tuanya maka amal dari kebaikannya juga merupakan amal orang tuanya dan doanya akan segera terkabul oleh Allah Subhannahu wa Ta'ala .
Jadi jelaslah bagi kita akan gambaran anak yang shalih yaitu anak yang taat kepada Allah Subhannahu wa Ta'ala , menjauhi larangan-laranganNya, selalu mendoakan orang tuanya dan selalu melaksanakan kebaikan-kebaikan.
2. Menciptakan lingkungan yang kondusif ke arah tercipta-nya anak yang shalih.
Lingkungan merupakan tempat di mana manusia melaksana-kan aktifitas-aktifitasnya. Secara mikro lingkungan dapat dibagi dalam tiga bagian, yaitu:
a.      Lingkungan keluarga.
Keluarga merupakan sebuah institusi kecil dimana anak mengawali masa-masa pertumbuhannya. Keluarga juga merupakan madrasah bagi sang anak. Pendidikan yang didapatkan merupakan pondasi baginya dalam pembangunan watak, kepribadian dan karakternya.
Jika anak dalam keluarga senantiasa terdidik dalam warna keIslaman, maka kepribadiannya akan terbentuk dengan warna keIslaman tersebut. Namun sebaliknya jika anak tumbuh dalam suasana yang jauh dari nilai-nilai keIslaman, maka jelas kelak dia akan tumbuh menjadi anak yang tidak bermoral.
Seorang anak yang terlahir dalam keadaan fitrah, kemudian orang tuanyalah yang mewarnainya, Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam bersabda:
كُلُّ مَوْلُوْدٍ يُوْلَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ، فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ أَوْ يُنَصِّرَانِهِ أَوْ يُمَجِّسَانِهِ. (رواه البخاري).
 “Setiap anak dilahirkan dalam keadaan yang fitrah (Islam), maka orang tuanya yang menyebabkan dia menjadi Yahudi, Nasrani atau Majusi.” (HR. Al-Bukhari).

Untuk itu orang tua harus dapat memanfaatkan saat-saat awal dimana anak kita mengalami pertumbuhannya dengan cara menanamkan dalam jiwa anak kita kecintaan terhadap diennya, cinta terhadap ajaran Allah Subhannahu wa Ta'ala dan RasulNya Shallallaahu alaihi wa Salam, sehingga ketika anak tersebut berhadapan dengan lingkungan lain anak tersebut memiliki daya resistensi yang dapat menangkal setiap saat pengaruh negatif yang akan merusak dirinya.
Agar dapat memudahkan jalan bagi pembentukan kepribadian bagi anak yang shalih, maka keteladanan orang tua merupakan faktor yang sangat menentukan. Oleh karena itu, selaku orang tua yang bijaksana dalam berinteraksi dengan anak pasti memperlihatkan sikap yang baik, yaitu sikap yang sesuai dengan kepribadian yang shalih sehingga anak dapat dengan mudah meniru dan mempraktekkan sifat-sifat orang tuanya
b.      Lingkungan Sekolah.
Sekolah merupakan lingkungan di mana anak-anak berkumpul bersama teman-temannya yang sebaya dengannya. Belajar, bermain dan bercanda adalah kegiatan rutin mereka di sekolah. Sekolah juga merupakan sarana yang cukup efektif dalam membentuk watak dan karakter anak. Di sekolah anak-anak akan saling mempengaruhi sesuai dengan watak dan karakter yang diperolehnya dalam keluarga mereka masing-masing. Anak yang terdidik secara baik di rumah tentu akan memberi pengaruh yang positif terhadap teman-temanya. Sebaliknya anak yang di rumahnya kurang mendapat pendidikan yang baik tentu akan memberi pengaruh yang negatif menurut karakter dan watak sang anak.
Faktor yang juga cukup menentukan dalam membentuk watak dan karakter anak di sekolah adalah konsep yang diterapkan sekolah tersebut dalam mendidik dan mengarahkan setiap anak didik.
Sekolah yang ditata dengan managemen yang baik tentu akan lebih mampu memberikan hasil yang memuaskan dibandingkan dengan sekolah yang tidak memperhatikan sistem managemen. Sekolah yang sekedar dibangun untuk kepentingan bisnis semata pasti tidak akan mampu menghasilkan murid-murid yang berkwalitas secara maksimal, kualitas dalam pengertian intelektual dan moral keagamaan.
Kualitas intelektual dan moral keagamaan tenaga pengajar serta kurikulum yang dipakai di sekolah termasuk faktor yang sangat menentukan dalam melahirkan murid yang berkualitas secara intelektual dan moral keagamaan.
Oleh sebab itu orang tua seharusnya mampu melihat secara cermat dan jeli sekolah yang pantas bagi anak-anak mereka. Orang tua tidak harus memasukkan anak mereka di sekolah-sekolah favorit semata dalam hal intelektual dan mengabaikan faktor perkembangan akhlaq bagi sang anak, karena sekolah tersebut akan memberi warna baru bagi setiap anak didiknya.
Keseimbangan pelajaran yang diperoleh murid di sekolah akan lebih mampu menyeimbangkan keadaan mental dan intelektualnya. Karena itu sekolah yang memiliki keseimbangan kurikulum antara pelajaran umum dan agama akan lebih mampu memberi jaminan bagi seorang anak didik.
c.      Lingkungan Masyarakat.
Masyarakat adalah komunitas yang terbesar dibandingkan dengan lingkungan yang kita sebutkan sebelumnya. Karena itu pengaruh yang ditimbulkannya dalam merubah watak dan karakter anak jauh lebih besar.
Masyarakat yang mayoritas anggotanya hidup dalam kemaksiatan akan sangat mempengaruhi perubahan watak anak kearah yang negatif. Dalam masyarakat seperti ini akan tumbuh berbagai masalah yang merusak ketenangan, kedamaian, dan ketentraman.
Anak yang telah di didik secara baik oleh orang tuanya untuk selalu taat dan patuh pada perintah Allah Subhannahu wa Ta'ala dan RasulNya, dapat saja tercemari oleh limbah kemaksiatan yang merajalela disekitarnya. Oleh karena itu untuk dapat mempertahankan kwalitas yang telah terdidik secara baik dalam institusi keluarga dan sekolah, maka kita perlu bersama-sama menciptakan lingkungan masyarakat yang baik, yang kondusif bagi anak.
Masyarakat terbentuk atas dasar gabungan individu-individu yang hidup pada suatu komunitas tertentu. Karena dalam membentuk masyarakat yang harmonis setiap individu memiliki peran dan tanggung jawab yang sama. Persepsi yang keliru biasanya masih mendominasi masyarakat. Mereka beranggapan bahwa yang bertanggung jawab dalam masalah ini adalah pemerintah, para da’i, pendidik atau ulama. Padahal Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam , bersabda:
مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ وَذَلِكَ أَضْعَفُ اْلإِيْمَانِ. (رواه مسلم).
 “Barangsiapa di antaramu melihat kemungkaran hendaklah ia merubahnya dengan tangannya, jika ia tidak sanggup maka dengan lidahnya, dan jika tidak sanggup maka dengan hatinya. Dan itu adalah selemah-lemah iman.” (HR. Muslim)
Jika setiap orang merasa tidak memiliki tanggung jawab dalam hal beramar ma’ruf nahi munkar, maka segala kemunkaran bermunculan dan merajalela di tengah masyarakat kita dan lambat atau cepat pasti akan menimpa putra dan putri kita. Padahal kedudukan kita sebagai umat yang terbaik yang dapat memberikan ketentraman bagi masyarakat kita hanya dapat tercapai jika setiap individu muslim secara konsisten menjalankan amar ma’ruf nahi munkar, karena Allah Subhannahu wa Ta'ala berfirman:
öNçGZä. uŽöyz >p¨Bé& ôMy_̍÷zé& Ĩ$¨Y=Ï9 tbrâßDù's? Å$rã÷èyJø9$$Î/ šcöqyg÷Ys?ur Ç`tã ̍x6ZßJø9$# tbqãZÏB÷sè?ur «!$$Î/ 3 öqs9ur šÆtB#uä ã@÷dr& É=»tGÅ6ø9$# tb%s3s9 #ZŽöyz Nßg©9 4 ãNßg÷ZÏiB šcqãYÏB÷sßJø9$# ãNèdçŽsYò2r&ur tbqà)Å¡»xÿø9$# ÇÊÊÉÈ  
 “Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma'ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik.” (Ali-Imran: 110).
Amar ma’ruf adalah kewajiban setiap individu masing-masing yang harus dilaksanakan. Jika tidak maka Allah Subhannahu wa Ta'ala , pasti akan menimpakan adzabnya di tengah-tengah kita dan pasti kita akan tergolong orang-orang yang rugi Allah Subhannahu wa Ta'ala berfirman:
`ä3tFø9ur öNä3YÏiB ×p¨Bé& tbqããô‰tƒ ’n<Î) ÎŽösƒø:$# tbrããBù'tƒur Å$rã÷èpRùQ$$Î/ tböqyg÷Ztƒur Ç`tã ̍s3YßJø9$# 4 y7Í´¯»s9'ré&ur ãNèd šcqßsÎ=øÿßJø9$# ÇÊÉÍÈ  
“
"Dan hendaklah diantara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang makruf dan mencegah yang munkar, merekalah orang-orang yang beruntung". (Ali-Imran :104)

Untuk itu marilah kita bersama-sama merasa peduli terhadap kelangsungan hidup generasi kita, semoga dengan kepedulian kita itulah Allah Subhannahu wa Ta'ala akan senantiasa menurunkan pertolonganNya kepada kita dan memenangkan Islam di atas agama-agama lainnya. Amiin

Template by : Pesantren Facebook Inspiratif : kendhin x-template.blogspot.com